Baubau Logo
Panen Raya Baubau
Amirul Tamim di Panen Raya Bersama Petani
Amirul Tamim di Panen Raya Bersama Petani
Kecamatan
Dinas dan Instansi
 
Air Bersih

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah air bersih. Yang berbeda jumlah kebutuhannya antara masyarakat di perdesaan dan di perkotaan. Untuk masyarkat di perdesaan menurut standard WHO adalah 80 – 100 L/orang/hari, sementara untuk masyarakat di perkotaan kebutuhannya adalah 100- 120 L/orang/hari. Pemenuhan kebutuhan air bersih (air minum) bagi masyarakat Kota Baubau masih terkendala pada Manajemen PDAM yang sebagian besar pengguna air bersih di Kota Baubau masih dibawah manajemen PDAM Kabupaten Buton. Namun demikian untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kota Baubau Pada tahun 2007 telah dilakukan studi master plan Rencana Induk Penyediaan Air Minum yang diharapkan dapat diimplementasikan bagi pemenuhan kebutuhan air minum bersih masyarakat Kota Baubau. Namun demikian di beberapa untuk masyarakat di kecamatan Sorawolio, Betoambari dan Bungi pemenuhan ketersediaan air bersih telah dibiayai melalui program PNPM-Mandiri – P2KP dan NUSSP.

Jumlah pelanggan air minum tahun 2009 sebanyak 10.492 sedangkan tahun 2010 mencapai 11.250 atau terjadi peningkatan sebesar 7,22 persen. Volume air yang disalurkan ke pelanggan tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 3,51 persen dari tahun sebelumnya yaitu dari 1.817.704 m3 tahun 2009 menjadi 1.753.954 m3 tahun 2010. Sedangkan air minum yang didistribusikan mengalami kenaikan 7,08 persen tahun 2010 yang mencapai nilai 7.289 juta rupiah sedangkan tahun 2009 hanya mencapai 6.807 juta rupiah.

Pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap air minum di daerah Kota Baubau sudah sebagian besar yang terlayani oleh perusahaan air minum utamanya masyarakat yang berdomisili di ibukota. sedangkan bagi masyarakat yang berdomisli di daerah pinggiran kota, masih ada sebagian kecil yang menggunakan air dari sumur dan mata air. untuk itu kegiatan pembangunan air minum terus diarahkan kepada perluasan jaringan air minum sampai ke pinggiran kota.


Melalui kegiatan pembangunan jaringan distribusi sekunder kerumah-rumah masyarakat, pembangunan bak penampung dan pelindung mata air diharapkan selain pemenuhan akan air minum yang bersih juga akan mengeliminir penyakit-penyakit yang bersumber dari air yang tidak berih menurut kesehatan. Program pembangunan sarana dan prasarana air minum / bersih ini diarahkan kepada perluasan jaringan distribusi ke seluruh pelosok perkotaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan sesuai standard baik fisik maupun non fisik. Sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 Pemerintah Kota Baubau telah membangun jaringan pipa sepanjang 15.955 m, 2 buah Broncaptering dan Reservoir sebanyak 7 buah. Dengan ketersediaan sumber-sumber air yang tersebar diperkirakan akan mencukupi kebutuhan masyarakat Kota Baubau sampai dengan 15- 30 tahun mendatang dengan asumsi pertambahan penduduk sebesar rata-rata 2 % per tahun dan konservasi terus dilakukan terhadap daerah-daearh sekitar mata air. Sumber-sumber mata air, kemampuan debit air dan persebarannya disajikan pada tabel 2.20 yaitu;

 


Sumber – Sumber Mata Air dan Kapasitasnya di Kota Baubau Tahun 2007 :

No. Nama Sumber Air
( Kali )
Kapasitas
(L/detik )
Prediksi kapasitas/hr (L) Lokasi
Kelurahan /Kecamatan

A. Air permukaan

1.

Bungi

80-100 69.120.000 Kec.Bungi
2.

Kaongke-ongkea

100-120 8.640.000 Gonda Baru/Sorawolio
3.

Baubau

100-120 8.640.000 Membelah Kota Baubau

B. Air Tanah

1.

Koba

60-80 5.185.000 Gonda Baru/ Sorawolio
2.

Pocubu

20-40 1.728.000 Gonda Baru/ Sorawolio
3.

Mata Tanah

60-80 5.184.000 Karya Baru/Sorawolio
4.

Wamembe

60-80 5.184.000 Kalia-Lia/ Bungi
5.

Lakatepi

30-45 2.592.000 Baadia/ Murhum
6.

Sambuana Ladu

30-45 2.592.000 Karya Baru/ Sorawolio
7.

Rumbia

10-20 864.000 Gonda Baru/ Sorawolio
8.

Matapu

10-20 864.000 Karya Baru / Sorawolio
9.

Wamunante

15-40 1.296.000 Waruruma/ Bungi
10.

Kolese

05-15 432.000 Kolese /Bungi
11.

Katopa-Topa

2,5-5 216.000 Bone-Bone/ Murhum
12.

Kmp. Lama Sulaa

2,5- 5 216.000 Sulaa / Betoambari

Sumber : Dinas PU dan Praswil (2008), diolah